Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi Embun pagi merayap di kaca jendela, serupa dengan kerinduan...

SERU! Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi SERU! Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi

SERU! Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi

SERU! Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi

Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi

Embun pagi merayap di kaca jendela, serupa dengan kerinduan yang merayap di hatiku. Setiap pagi, aroma kopi dan roti bakar dari "Senja Pagi" menyeruak, membawa serta bayangan wajahnya. Xiao Mei. Rambutnya sehitam malam, matanya seteduh danau di pegunungan. Tapi dia…dia bekerja di sana. Dan aku…aku membeli restoran itu. Bukan karena aku lapar akan keuntungan, tapi karena aku kelaparan akan kehadirannya.

Nama asliku adalah Li Wei. Tapi di depan Xiao Mei, aku hanyalah "Wei", pemilik baru yang misterius dan sok akrab. Aku tahu ini bohong. Kebohongan yang dibangun lapis demi lapis hanya untuk melihatnya.

Dia, Xiao Mei, adalah jantung dari "Senja Pagi". Tangannya lincah meracik kopi, senyumnya menghangatkan suasana. Dia tidak tahu, di balik senyumku, ada kebohongan besar yang menari-nari. Kebohongan tentang identitasku, tentang alasan aku membeli restoran ini, tentang masa lalu yang kami berdua bagikan – masa lalu yang hanya aku ingat.

Dulu, kami adalah sepasang kekasih. Di kota yang berbeda, di bawah langit yang sama. Lalu, tragedi itu datang. Kecelakaan yang merenggut segalanya. Aku kehilangan ingatanku, dia kehilangan...aku. Atau begitulah yang aku pikirkan.

Hari demi hari, aku mengamatinya. Mencari celah dalam dirinya. Mencari jejak kenangan yang mungkin masih tersisa. Aku mendengar dia tertawa, bercanda dengan pelanggan, bahkan berbisik lirih saat membersihkan meja. Semua itu membuat dadaku sesak. Aku ingin berteriak, "Xiao Mei! Ini aku! Li Wei-mu!" Tapi lidahku kelu.

Konflik batin ini memaksaku. Semakin aku mendekatinya, semakin besar pula rasa bersalahku. Aku tahu, cepat atau lambat, kebenaran akan terungkap. Dan kebenaran itu…akan menghancurkannya.

Lalu, suatu malam, badai menerjang kota. Listrik padam. "Senja Pagi" gelap gulita. Aku menemukan Xiao Mei duduk di sudut, memeluk lututnya. Aku mendekat.

"Kau takut?" tanyaku lembut.

Dia menggeleng. "Aku hanya…merasa aneh. Seolah ada sesuatu yang hilang."

Kesempatanku.

"Xiao Mei…" Aku menarik napas dalam-dalam. "Ada sesuatu yang harus kau tahu."

Saat itulah, seseorang masuk. Seorang pria. Menghampiri Xiao Mei. Memeluknya. Mencium keningnya.

"Sayang, maaf aku terlambat," kata pria itu. "Listrik padam di seluruh kota."

Sayang.

Duniku runtuh. Kebohongan itu… ternyata bukan hanya milikku. Kebohongan Xiao Mei lebih besar, lebih menyakitkan. Dia sudah melupakanku. Dia sudah move on. Dia telah membangun kehidupan baru dengan orang lain.

Di matanya, aku hanyalah orang asing. Pemilik restoran yang sok akrab. Bukan Li Wei, kekasihnya yang hilang.

Aku mundur. Perlahan. Tanpa suara. Rasa sakit itu… melumpuhkan.

Keesokan harinya, aku menjual "Senja Pagi".

Aku meninggalkannya dengan sepucuk surat. Surat tanpa nama, tanpa penjelasan. Hanya satu kalimat: "Aku tahu."

Balas dendamku bukan dengan amarah, bukan dengan teriakan. Balas dendamku adalah dengan menghilang. Meninggalkannya dengan teka-teki yang akan menghantuinya seumur hidup. Meninggalkannya dengan keraguan apakah pria yang ia cintai adalah seluruh kebenaran yang ia tahu.

Aku meninggalkannya dengan senyum pahit. Senyum perpisahan yang abadi.

Akankah dia mencari tahu siapa 'Wei' sebenarnya, dan apa yang sebenarnya hilang dari ingatannya?

You Might Also Like: Kisah Populer Bayangan Yang Menyentuh

0 Comments: