Di balik tirai sutra senja, di mana matahari mencium pipi langit dengan perpisahan emas, terlukis sebuah danau berkilauan. Bayang-bayang po...

Cerpen Seru: Satu Tatapan Untuk Seribu Luka Cerpen Seru: Satu Tatapan Untuk Seribu Luka

Cerpen Seru: Satu Tatapan Untuk Seribu Luka

Cerpen Seru: Satu Tatapan Untuk Seribu Luka

Di balik tirai sutra senja, di mana matahari mencium pipi langit dengan perpisahan emas, terlukis sebuah danau berkilauan. Bayang-bayang pohon willow menari seperti penari bisu, menyimpan rahasia yang hanya berani diungkapkan pada angin malam. Di sanalah, di tepi danau itu, pertama kali mataku bertemu dengan tatapannya.

Dia, Bai Lian, berdiri tegak bagai bunga teratai yang tumbuh di atas air berlian. Wajahnya, seputih porselen dengan sapuan kuas merah muda, dibingkai oleh rambut hitam legam yang mengalir seperti air terjun malam. Matanya… oh, matanya adalah samudra yang menenggelamkanku dalam pusaran rindu yang tak bertepi.

Satu tatapan. Satu sentuhan yang terasa bagai seribu luka. Luka karena aku tahu, jauh di lubuk hatiku yang terdalam, bahwa dia bukanlah milikku. Dia adalah ilusi, serpihan mimpi yang terlepas dari jangkauan tangan.

Kami bertemu dalam senyap, berkomunikasi melalui tatapan dan desiran angin. Kata-kata hanyalah hiasan yang merusak keindahan yang murni ini. Kami melukiskan kisah cinta kami di atas kanvas kabut pagi, dengan tinta air mata dan kuas kerinduan. Setiap pertemuan adalah perjalanan ke dimensi waktu yang terlupakan, tempat di mana mimpi dan kenyataan berdansa dalam irama yang memabukkan.

Aku memberinya seruling bambu yang kurakit sendiri, sebuah janji bisu untuk menemaninya di setiap langkah. Dia membalasnya dengan senyuman tipis, sebuah jembatan rapuh yang menghubungkan dua jiwa yang terpisah oleh jurang takdir.

Namun, takdir memang kejam. Seperti aliran sungai yang tak bisa dibendung, waktu terus berjalan. Kabut pagi mulai menipis, mengungkap kebenaran yang pahit.

Suatu malam, di bawah rembulan perak yang menggantung di langit bagai koin dewa, dia membisikkan sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang membakar jiwaku menjadi abu.

"Aku… aku adalah roh danau. Aku terikat di sini, selamanya."

Air mataku jatuh bagai hujan es di gurun Sahara. Keindahan cintaku, ilusi yang selama ini kupuja, ternyata adalah jerat yang mengurungku dalam kesedihan abadi.

Misteri terpecahkan. Namun, pengungkapan ini justru membuat luka semakin menganga. Aku mencintai sebuah hantu. Sebuah ilusi yang tak pernah bisa kumiliki sepenuhnya.

Dia menghilang bersama fajar, meninggalkan seruling bambu tergeletak di pasir. Aku memungutnya, merasakan denyutan hancur hatiku.


Puluhan tahun berlalu. Aku menua, diliputi oleh bayang-bayang masa lalu. Suatu hari, saat aku duduk di tepi danau, seorang gadis kecil mendekatiku. Dia memegang seruling bambu yang persis sama dengan milikku.

Dia tersenyum. Senyuman itu… senyuman Bai Lian.

Dia berbisik, "Aku selalu ada..."

You Might Also Like: Convierte Fahrenheit Celsius Sin

0 Comments: