Lantai marmer istana terasa dingin di bawah kakiku yang telanjang. Gaun sutra putih yang kupakai terasa seperti kafan, membungkus tubuh yang dulu dipuja, kini diacuhkan. Di hadapanku, sebuah meja mahogany mengkilap memantulkan wajahku yang pucat, dibingkai rambut hitam legam yang tergerai bebas. Di atas meja itu, tergeletak dua lembar dokumen. Dokumen perpisahan.
Tanganku bergetar saat meraih pena bulu angsa. Tinta hitam berkilauan tampak seperti darah yang siap mengalir. Aku, Mei Lan, putri seorang jenderal besar yang dibuang, istri Kaisar yang tak pernah mencintaiku, dihancurkan. Kekuatan kekaisaran merenggut ayahku, dituduh berkhianat. Cinta Kaisar adalah fatamorgana yang mengejekku di tengah gurun kesepian.
Dulu, aku adalah bunga lotus yang mekar sempurna di taman istana. Lembut, polos, dan penuh cinta. Sekarang, aku adalah bunga teratai yang tumbuh di medan perang, akarnya menghunjam dalam lumpur kesedihan, kelopaknya berlumuran debu dan darah. Aku belajar bahwa kelembutan tanpa kekuatan adalah kebodohan. Luka adalah pupuk terbaik untuk pertumbuhan. Keindahan adalah senjata terampuh.
Setiap malam aku terbangun dengan mimpi buruk. Mimpi tentang ayahnya yang berteriak, tentang tatapan dingin Kaisar, tentang suara cemoohan para selir. Namun, setiap pagi aku bangun lebih kuat. Aku belajar bahasa tubuh, bahasa pedang, bahasa politik. Aku belajar bahwa diam adalah emas, tapi strategi adalah berlian.
Kaisar, dengan segala kekuasaannya, mengira aku akan layu dan mati. Ia salah. Aku membiarkan dirinya mengira begitu. Aku mengumpulkan kekuatan diam-diam, merajut benang-benang pengaruh di istana, di antara para pejabat, bahkan di antara para prajurit. Aku tidak ingin balas dendam dengan amarah yang membutakan. Aku ingin balas dendam dengan ketenangan yang MEMATIKAN.
Aku menatap dokumen itu lagi. Nama Kaisar tertera di sana dengan tinta emas. Kebencian membakar dadaku, tapi aku memaksanya masuk. Aku menarik napas dalam-dalam.
Aku menggoreskan pena di atas kertas. Bukan tanda tanganku. Bukan nama yang dulu dikenal sebagai Mei Lan. Aku menuliskan sebuah simbol, sebuah janji, sebuah KEMENANGAN yang belum terjadi, tapi pasti akan terjadi.
Aku mengangkat kepala, menatap Kaisar dengan mata yang kini tak lagi memancarkan kesedihan, melainkan sebuah tekad yang membara tenang. Aku memberikan dokumen itu kepadanya.
Senyum tipis bermain di bibirku. Ia tidak akan pernah tahu bahwa ia baru saja menandatangani kontrak dengan kematiannya sendiri.
Dan saat tirai akhirnya jatuh, tahta berlumuran darah, dan rakyat bersorak untuk Ratu yang baru lahir, aku tahu bahwa... kekuatanku bukanlah mahkota, tapi kesadaranku.
You Might Also Like: 21 Manfaat Paket Skincare Lokal Untuk
0 Comments: