Mahkota yang Retak oleh Ciuman Embun pagi merayapi kelopak bunga teratai di taman istana, sejuk dan lembut. Sama seperti senyum Bai Lian ,...

Cerita Populer: Mahkota Yang Retak Oleh Ciuman Cerita Populer: Mahkota Yang Retak Oleh Ciuman

Mahkota yang Retak oleh Ciuman

Embun pagi merayapi kelopak bunga teratai di taman istana, sejuk dan lembut. Sama seperti senyum Bai Lian, pewaris tunggal takhta dinasti Qingyuan. Namun, di balik senyumnya, tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari malam tanpa bintang. Ia hidup dalam labirin kebohongan, dijaga ketat oleh kesetiaan palsu dan ambisi berdarah.

Di sisi lain, berdiri Lin Wei, seorang tabib istana yang rendah hati, namun matanya menyimpan bara kebenaran yang membara. Ia datang bukan untuk ketenaran atau kekuasaan, melainkan untuk mengungkap misteri kematian ayahnya, seorang jenderal setia yang dituduh berkhianat. Setiap bisikan angin di koridor istana, setiap tatapan curiga, mengantarkannya semakin dekat pada jurang kebenaran.

Dinamika di antara Bai Lian dan Lin Wei bagaikan tarian di atas kaca yang rapuh. Bai Lian, dengan pesonanya yang menawan, mencoba menjerat Lin Wei ke dalam jaring kebohongannya. Ciuman pertama mereka, di bawah rembulan yang pucat, seharusnya menjadi simbol cinta dan kepercayaan. Namun, bagi Lin Wei, itu adalah ciuman Yudas, sebuah pengkhianatan yang menyakitkan.

"Kau tahu, kan? Bahwa kebenaran yang kau cari akan menghancurkan segalanya?" bisik Bai Lian, suaranya selembut sutra.

Lin Wei hanya menatapnya, matanya berkilat. "Lebih baik hancur oleh kebenaran daripada hidup dalam istana kebohongan."

Konflik meruncing seperti anak panah yang melesat menuju jantung. Lin Wei menemukan bukti yang tak terbantahkan bahwa Bai Lian-lah yang merencanakan kematian ayahnya, demi mengamankan takhta untuk dirinya sendiri. Kepercayaan Lin Wei hancur berkeping-keping, digantikan oleh amarah yang membara.

Puncak dari segalanya adalah ketika Lin Wei mengungkap kebenaran di hadapan seluruh istana, tepat pada perayaan ulang tahun Bai Lian. Keheningan menyesakkan memenuhi aula. Wajah Bai Lian memucat, mahkotanya terasa semakin berat di kepalanya.

"Kau... berani?" desis Bai Lian, matanya memancarkan kemarahan yang membunuh.

"Aku hanya mengembalikan apa yang menjadi hakku, Yang Mulia. Kebenaran," jawab Lin Wei, suaranya setenang ombak laut dalam.

Balas dendam Lin Wei bukan berupa pedang atau darah. Ia memilih untuk mengungkap seluruh kebusukan yang selama ini disembunyikan Bai Lian. Ia membiarkan rakyat melihat raja mereka yang sebenarnya, seorang pengkhianat bermahkota yang haus kekuasaan.

Bai Lian kehilangan segalanya. Takhta, kehormatan, dan yang paling menyakitkan, kepercayaan orang-orang yang dicintainya. Ia diasingkan ke kuil terpencil, hidup dalam kesepian dan penyesalan.

Lin Wei berdiri di puncak menara istana, menyaksikan kereta yang membawa Bai Lian menjauh. Senyum tipis menghiasi bibirnya, senyum yang menyimpan perpisahan abadi. Balas dendam yang tenang, namun menghancurkan.

Apakah senyum itu adalah akhir dari segalanya, atau awal dari babak baru yang lebih mengerikan?

You Might Also Like: Dallas Cowboys Ditch Navy Stripes On

Hujan menggigil kota tepi sungai. Setiap tetesnya terasa seperti jarum es yang menusuk kulit, membangkitkan kenangan yang seharusnya terkub...

Cerita Populer: Rahasia Yang Menjadi Legenda Cerita Populer: Rahasia Yang Menjadi Legenda

Hujan menggigil kota tepi sungai. Setiap tetesnya terasa seperti jarum es yang menusuk kulit, membangkitkan kenangan yang seharusnya terkubur. Di balik jendela kedai teh yang remang, Lan Xin menatap kosong pada riak air yang menari di permukaan sungai. Lima belas tahun sudah berlalu, namun bayangan pengkhianatan itu masih terpampang jelas di benaknya.

Dulu, ia dan Zhen Wei saling mencintai. Cinta mereka sehangat matahari musim semi, seindah bunga persik yang bermekaran di taman istana. Namun, badai tiba-tiba menerjang. Zhen Wei, karena sebuah kesalahan—atau mungkin karena ambisi—menikah dengan putri kerajaan dan meninggalkan Lan Xin dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Lentera di kedai itu nyaris padam, cahayanya berkedip-kedip seperti harapan yang hampir pupus. Setiap kali Lan Xin melihat pantulan wajahnya di cermin, ia melihat bukan hanya usia yang bertambah, tapi juga luka yang semakin menganga. Ia mencoba mengubur amarahnya, mencoba memaafkan, tapi kenangan itu selalu datang menghantui.

Zhen Wei, kini seorang jenderal besar, kerap melintas di depan kedai itu. Tatapannya selalu mencari Lan Xin, seolah ia ingin menyampaikan sesuatu yang tak terucap. Lan Xin selalu memalingkan wajahnya. Ia tak ingin menunjukkan kelemahan. Ia tak ingin Zhen Wei melihat betapa hancurnya ia.

"Lan Xin," suara Zhen Wei lirih suatu malam, ketika hujan reda dan hanya rembulan pucat yang menjadi saksi. "Aku..."

"Pergi," Lan Xin memotong kalimatnya dengan nada dingin. "Jangan pernah kembali."

Zhen Wei menunduk, bayangannya patah di bawah cahaya rembulan. Ia berbalik dan menghilang dalam kegelapan, meninggalkan Lan Xin dengan air mata yang tak bisa lagi ia bendung.

Namun, di balik kesedihannya, ada RENCANA yang tersimpan rapat. Lan Xin telah menghabiskan bertahun-tahun untuk mengumpulkan informasi, untuk memetakan kelemahan Zhen Wei, untuk mencari tahu kebenaran di balik pernikahannya dengan putri kerajaan.

Ia tahu bahwa Zhen Wei menikahi sang putri bukan karena cinta, melainkan karena paksaan. Ia tahu bahwa ada konspirasi yang jauh lebih besar yang melibatkan keluarga kerajaan dan para pejabat tinggi. Ia juga tahu bahwa Zhen Wei menyimpan RAHASIA yang bisa menghancurkan seluruh kerajaan.

Selama ini, Lan Xin berpura-pura menderita, berpura-pura lemah. Ia membiarkan Zhen Wei merasa bersalah, merasa bertanggung jawab. Ia membiarkan Zhen Wei merasa memiliki kendali. Tapi, sebenarnya, Lan Xin-lah yang memegang kendali penuh.

Di balik layar, Lan Xin telah membangun jaringan intelijen yang kuat, mengumpulkan bukti-bukti yang memberatkan Zhen Wei dan para konspirator. Ia telah menyiapkan jebakan yang sempurna, siap menjerat mereka semua.

Dan kini, saatnya telah tiba.

Lan Xin tersenyum tipis, senyum yang tidak mencerminkan kebahagiaan, melainkan kepuasan. Ia menatap lentera yang kini menyala lebih terang, cahayanya menembus kegelapan.

"Zhen Wei," bisiknya pelan. "Lima belas tahun yang lalu, kau mengambil segalanya dariku. Sekarang, giliranmu merasakan kehilangan yang sesungguhnya. Dendamku akan menjadi legenda."

Dan di tengah gemuruh badai yang kembali menerjang, Lan Xin tahu bahwa ketika Zhen Wei menikahi sang putri, ia sebenarnya tidak pernah tahu, bahwa putrinya yang sesungguhnya adalah... Putri dari Kerajaan Utara, musuh bebuyutan kerajaan yang ia bela mati-matian selama ini!

You Might Also Like: Mimpi Melihat Tokek Rumah Jangan

Air Mata di Ujung Pedang Kekasih Babak I: Bunga Persik di Lembah Sunyi Seratus tahun telah berlalu sejak pedang berlumuran darah itu jatu...

Drama Populer: Air Mata Di Ujung Pedang Kekasih Drama Populer: Air Mata Di Ujung Pedang Kekasih

Air Mata di Ujung Pedang Kekasih

Babak I: Bunga Persik di Lembah Sunyi

Seratus tahun telah berlalu sejak pedang berlumuran darah itu jatuh, merenggut nyawa Bai Lianhua, sang putri yang dicintai. Seratus tahun sejak janji terucap di bawah rembulan perak, janji yang kini terasa seperti kutukan.

Di lembah sunyi yang sama, tempat dulu pohon persik bermekaran, kini Lin Yue, seorang gadis desa yang sederhana, lahir. Setiap musim semi, pohon persik itu kembali berbunga, seolah mengenang masa lalu yang terlupakan. Yue memiliki tatapan mata yang ANEH familier, suara yang bergema di kedalaman jiwa seseorang, dan mimpi-mimpi yang dipenuhi adegan peperangan dan wajah seorang pria yang tak dikenalnya.

"Mengapa aku selalu merasa seperti pernah hidup di tempat ini sebelumnya?" bisiknya suatu hari, membelai kelopak bunga persik yang jatuh.

Di kota kekaisaran yang gemerlap, Pangeran Kedua, Xiao Feng, menyimpan rahasia yang sama. Sejak kecil, ia dihantui mimpi buruk tentang seorang wanita yang dibunuh dengan kejam. Mimpi itu membuatnya dingin dan menjauhi wanita, sampai suatu hari, ia melihat Yue di pasar.

DEJA VU.

Jantungnya berdebar kencang. Mata itu. Suara itu. Dia mengenalnya, tapi dari mana?

Babak II: Bayangan Masa Lalu

Pertemuan mereka bukanlah kebetulan, melainkan takdir yang telah dirajut berabad-abad lalu. Yue, dengan kemampuannya yang unik, diangkat menjadi pelayan di istana. Xiao Feng, yang tertarik sekaligus takut dengan Yue, mulai menyelidiki masa lalunya.

Mereka menemukan catatan sejarah yang tersembunyi, lukisan-lukisan yang dilupakan, dan saksi bisu yang masih hidup. Potongan-potongan puzzle masa lalu perlahan terungkap. Bai Lianhua, seorang putri yang difitnah dan dibunuh oleh rival politiknya, dan kekasihnya, seorang jenderal yang berjanji untuk membalas dendam.

Setiap petunjuk terasa seperti LUKA yang kembali menganga. Yue mulai mengingat potongan-potongan kehidupan Bai Lianhua: ciuman pertama di bawah pohon persik, tawa yang renyah, dan pengkhianatan yang pahit.

"Itu… aku," gumamnya, air mata mengalir di pipinya.

Xiao Feng, yang ternyata adalah reinkarnasi sang jenderal, merasakan AMARAH membara di dalam dirinya. Ia ingin membalas dendam atas kematian Lianhua, menghancurkan semua orang yang terlibat.

Babak III: Kebenaran Pahit

Namun, kebenaran yang sebenarnya jauh lebih pahit dari yang mereka bayangkan. Pembunuh Bai Lianhua bukanlah rival politiknya, melainkan… IBUNYA sendiri, Permaisuri yang berkuasa. Permaisuri cemburu pada Lianhua, yang merebut hati kaisar dan mengancam posisinya.

Xiao Feng terpukul. Ia berada di ambang kehancuran. Bagaimana mungkin ia membalas dendam pada ibunya sendiri?

Yue memegang tangannya, matanya penuh ketenangan. "Dendam tidak akan membawa kedamaian, Feng. Kita harus memaafkan, bukan melupakan."

Babak IV: Keheningan yang Menusuk

Alih-alih membalas dendam dengan kekerasan, Yue dan Xiao Feng memilih jalan yang berbeda. Mereka mengungkap kebenaran kepada kaisar, bukan dengan kata-kata kasar, melainkan dengan bukti-bukti yang tak terbantahkan. Permaisuri, yang diliputi penyesalan, menyerahkan dirinya pada keadilan.

Xiao Feng, dengan KEHENINGAN yang menusuk, menolak untuk menghukum ibunya. Ia membiarkannya hidup dengan penyesalannya, hukuman yang jauh lebih berat daripada kematian.

Yue, dengan PENGAMPUNAN yang tulus, mengunjungi Permaisuri di penjara. Ia tidak mencaci maki, tidak menyalahkan. Ia hanya memberikan sehelai kain sutra putih, simbol pengampunan dan harapan untuk penebusan.

Epilog

Di bawah pohon persik yang kembali bermekaran, Yue dan Xiao Feng berdiri berdampingan. Peperangan telah usai. Dendam telah terbalaskan, bukan dengan darah, melainkan dengan keheningan dan pengampunan.

"Apakah ini akhirnya?" tanya Xiao Feng, menatap Yue dengan penuh cinta.

Yue tersenyum tipis. "Bukan akhir, Feng. Ini adalah… awal yang baru."

*…angin berbisik: "Kita akan bertemu lagi…" *

You Might Also Like: 46 Tips Sunscreen Mineral Lokal Dengan

Aku Menatap Dunia Hancur, Tapi Cintaku Tetap Utuh Embun pagi merayap di kelopak bunga shui lian , selembut bisikan rahasia. Di balik gerba...

Drama Abiss! Aku Menatap Dunia Hancur, Tapi Cintaku Tetap Utuh Drama Abiss! Aku Menatap Dunia Hancur, Tapi Cintaku Tetap Utuh

Aku Menatap Dunia Hancur, Tapi Cintaku Tetap Utuh

Embun pagi merayap di kelopak bunga shui lian, selembut bisikan rahasia. Di balik gerbang megah keluarga Li, tersembunyi dua jiwa yang terikat benang takdir yang rumit. Dia, Li Wei, pewaris tunggal yang dibesarkan dalam KEBOHONGAN, setiap senyumnya adalah topeng, setiap katanya adalah skenario yang diatur. Dan dia, Lin Mei, seorang yatim piatu yang menggali kebenaran pahit di balik gemerlap dunia Li, kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Lin Mei bekerja sebagai pelayan di kediaman Li, matanya yang jernih mengamati setiap sudut, setiap percakapan. Ia mencintai Li Wei, tanpa tahu bahwa pria itu adalah bagian dari konspirasi yang merenggut keluarganya. Cintanya tumbuh seperti anggrek liar, indah namun terlarang, dilahap rasa sakit yang tak terperi.

"Wei Ge," bisiknya suatu malam, saat Li Wei diam-diam menemuinya di taman belakang, "ada sesuatu yang disembunyikan di balik senyummu."

Li Wei terdiam. Matanya, yang biasanya penuh dengan keangkuhan, memancarkan kesedihan yang dalam. "Mei, beberapa kebenaran lebih baik terkubur. Percayalah padaku, demi keselamatanmu."

Namun, Lin Mei pantang menyerah. Ia tahu, KEDAMAIAN hanya akan ia temukan dalam kebenaran. Ia terus menyelidiki, mengungkap satu demi satu rahasia kelam keluarga Li, hingga akhirnya menemukan bukti yang tak terbantahkan: ayahnya, Li Jian, adalah dalang di balik kematian orang tuanya.

Konflik memuncak di malam pesta ulang tahun Li Wei. Lin Mei, dengan keberanian yang membara, membongkar kebenaran di hadapan semua tamu. Li Jian menyangkal dengan keras, tetapi bukti yang ia tunjukkan terlalu kuat untuk diabaikan.

Li Wei, hancur dan marah, menghadapi ayahnya. Pertengkaran sengit terjadi, disaksikan oleh semua orang. Di tengah kekacauan, Li Wei membuat pilihan yang mengejutkan: ia memihak Lin Mei, mengakui kejahatan ayahnya, dan menyerahkan dirinya ke pihak berwajib.

Dunia Li Wei hancur. Ia kehilangan segalanya: kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan. Namun, di mata Lin Mei, ia menemukan CINTA yang tulus, cinta yang tak lekang oleh waktu, bahkan di tengah kehancuran.

Beberapa tahun kemudian, Lin Mei mengunjungi Li Wei di penjara. Ia menatapnya dengan tatapan penuh cinta, tetapi di balik matanya, tersembunyi rencana yang sudah lama ia susun.

"Wei Ge," ucapnya lembut, "aku sudah membalas dendam atas kematian orang tuaku."

Ia menjelaskan bahwa ia telah menghancurkan seluruh bisnis Li Jian, membawanya ke ambang kebangkrutan dan kehancuran. Ia melakukan semua itu bukan karena kebencian, tetapi karena KEADILAN harus ditegakkan.

Li Wei tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi menyimpan kepalsuan, tetapi menyimpan perpisahan abadi. Ia tahu, Lin Mei tidak akan pernah bisa benar-benar memaafkannya, dan ia menerima takdir itu dengan lapang dada.

"Terima kasih, Mei," bisiknya. "Kau telah melakukan apa yang harus kulakukan."

Lin Mei berbalik, meninggalkan Li Wei di dalam penjara. Langkahnya ringan, tetapi hatinya berat. Ia telah mendapatkan keadilan, tetapi kehilangan cinta sejatinya. Balas dendamnya telah selesai, tetapi jiwanya TERLUKA.

Ia meninggalkan sepucuk surat di gerbang penjara, berisi satu kalimat terakhir: "Apakah cinta sejati benar-benar ada, atau hanya ilusi yang diciptakan oleh rasa sakit?"

You Might Also Like: 0895403292432 Cari Skincare Aman Ini

Embun pagi masih menempel di kelopak teratai, namun hatiku sudah membeku. Di hadapanku, berdiri dia, Lan Xiwei. Bukan lagi gadis polos yang...

Kisah Seru: Kau Lahir Dengan Luka Di Dada, Bekas Tusukan Pedangku Di Masa Lalu Kisah Seru: Kau Lahir Dengan Luka Di Dada, Bekas Tusukan Pedangku Di Masa Lalu

Embun pagi masih menempel di kelopak teratai, namun hatiku sudah membeku. Di hadapanku, berdiri dia, Lan Xiwei. Bukan lagi gadis polos yang kucintai di bawah pohon mei yang bermekaran dulu. Kini, sorot matanya sedalam jurang, sedingin es di puncak Kunlun.

Dulu, pedangku, pedang yang seharusnya melindunginya, justru menembus dadanya. Kesalahan pahit di masa lalu, ketika aku terperangkap dalam intrik perebutan kekuasaan, ketika aku dibutakan oleh ambisi. Aku mengkhianati janjiku, mengkhianati cintaku. Dia jatuh, dan bersamanya, runtuh pula hatiku.

"Zhuo Yifan," bisiknya, suaranya serak seperti desahan angin di padang pasir. Nama itu, nama yang dulu diucapkannya dengan penuh kasih, kini terdengar seperti kutukan. "Kau ingat janji kita di bawah pohon mei? Kau ingat sumpah setia yang kau ikrarkan di depan bulan purnama?"

Aku terdiam. Lidahku kelu. Bagaimana mungkin aku melupakan semua itu? Setiap detik, setiap mimpi, selalu terisi bayangan wajahnya. Wajah yang kini menatapku dengan kebencian yang membakar.

"Aku…aku khilaf, Xiwei. Aku…aku menyesal."

Senyum sinis merekah di bibirnya yang dulu selalu memancarkan kelembutan. "Menyesal? Apakah penyesalanmu bisa mengembalikan nyawa yang kau renggut? Apakah penyesalanmu bisa menghapus luka di hatiku? LUKA INI, ZHUO YIFAN, AKAN ABADI!"

Dia mengangkat tangannya, menunjukkan bekas luka yang tersembunyi di balik jubahnya. Bekas tusukan pedangku. Bekas luka yang kini terukir pula di jiwaku.

Aku berlutut di hadapannya, memohon ampun. "Hukumlah aku, Xiwei. Bunuh aku jika itu bisa meringankan beban hatimu."

Dia tertawa. Tawa yang hampa, tawa yang membuatku merinding. "Membunuhmu? Itu terlalu mudah. Dendam ini terlalu manis untuk dibiarkan berlalu begitu saja."

Dia berbalik, melangkah menjauh, meninggalkan aku dalam lautan penyesalan yang tak bertepi.

"Kau lihat istana megah itu, Zhuo Yifan? Itu hasil kerja kerasku. Aku membangunnya di atas pengkhianatanmu. Aku akan melihatmu menderita karena cinta yang tak terbalas, karena kekuasaan yang kau idam-idamkan, karena kehilangan yang tak terhindarkan."

Dia berhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh, dia melanjutkan, "Dan jangan lupa, Zhuo Yifan, kau telah memberikan benih kepada musuh terbesarmu. Benih yang akan tumbuh dan membalaskan dendamku. Takdir memiliki caranya sendiri untuk menuntut keadilan."

Angin berdesir lembut, membawa aroma mei yang pahit.

Cinta dan dendam menari bersama dalam rahim takdir, menunggu buah terlarang itu matang.

You Might Also Like: Agen Skincare Jualan Online Mudah Kota

Air Mata yang Menjadi Penebusan Babak pertama dimulai dengan embun pagi yang membasahi kelopak bunga Peony putih di taman terlarang. Bung...

Dracin Seru: Air Mata Yang Menjadi Penebusan Dracin Seru: Air Mata Yang Menjadi Penebusan

Air Mata yang Menjadi Penebusan

Babak pertama dimulai dengan embun pagi yang membasahi kelopak bunga Peony putih di taman terlarang. Bunga itu merekah sempurna, sebuah keindahan yang rapuh di tengah kekejaman istana. Sama rapuhnya dengan Jiang Mei, sang protagonis kita.

Dulu, Jiang Mei adalah putri kesayangan Jenderal Besar Jiang. Hidupnya bagaikan dongeng, dipenuhi tawa dan cinta yang tulus dari pemuda bernama Li Wei, putra mahkota yang berjanji akan menjadikannya permaisuri. Namun, istana adalah labirin intrik. Ayahnya difitnah berkhianat, dieksekusi di depan matanya. Li Wei, demi kekuasaan, MENGKHIANATI cintanya, menikahi putri dari keluarga yang lebih berpengaruh.

Jiang Mei, dari putri yang dimanja, menjadi tahanan istana. Setiap malam, air matanya menetes membasahi bantal, menjadi saksi bisu kehancurannya. Luka-luka itu menganga lebar, hampir merenggut nyawanya. Namun, di dalam kegelapan, benih kekuatan mulai tumbuh. Bukan kekuatan fisik, melainkan ketenangan batin yang MEMATIKAN.

Bertahun-tahun berlalu. Jiang Mei, dengan bantuan seorang kasim setia, berhasil keluar dari istana. Dia mengubah namanya menjadi Liu Yue, seorang tabib dengan kemampuan luar biasa. Kelembutannya dalam menyembuhkan penyakit menyembunyikan bara dendam yang membara di dalam hatinya.

Liu Yue membangun jaringan informasi yang luas. Dia mempelajari kelemahan Li Wei, sekarang Kaisar, dan permaisurinya. Dia tahu persis bagaimana memainkan bidak-bidak di papan catur kehidupan. Balas dendamnya bukan tentang pertumpahan darah. Itu tentang KEHANCURAN yang lebih halus, lebih menyakitkan: merebut kembali kehormatan ayahnya, menghancurkan kekuasaan Li Wei dari dalam, dan menunjukkan kepadanya apa artinya kehilangan segalanya.

Dia tidak menggunakan pedang, melainkan racun yang lebih ampuh: kebenaran. Dia membongkar kebohongan yang selama ini menutupi kejahatan Li Wei. Rakyat mulai meragukan kesucian Kaisar. Para pejabat mulai mempertanyakan kepemimpinannya.

Puncaknya adalah ketika Liu Yue, dengan keberanian yang luar biasa, mengungkap kebenaran tentang pengkhianatan Li Wei di depan seluruh istana. Air matanya tidak lagi menetes karena kesedihan, melainkan karena kemenangan. Li Wei runtuh. Tahtanya goyah.

Di akhir cerita, Liu Yue, kini berdiri tegak di tengah reruntuhan istana, menatap cakrawala. Kelembutannya tidak hilang, tetapi diperkuat oleh badai yang telah dilaluinya. Luka-lukanya telah menjadi peta jalan menuju takdirnya sendiri. Dia tidak mengambil tahta, dia tidak haus akan kekuasaan. Dia hanya ingin keadilan ditegakkan.

Dan di senyumnya, tersirat bahwa ini hanyalah permulaan

You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Non

Hujan menggigil di luar jendela, persis seperti malam itu, sepuluh tahun lalu. Aroma tanah basah bercampur dengan keharuman teh pahit yang ...

FULL DRAMA! Aku Mencium Racun Dari Cangkirku, Tapi Rasanya Seperti Kepulangan FULL DRAMA! Aku Mencium Racun Dari Cangkirku, Tapi Rasanya Seperti Kepulangan

Hujan menggigil di luar jendela, persis seperti malam itu, sepuluh tahun lalu. Aroma tanah basah bercampur dengan keharuman teh pahit yang mengepul dari cangkir porselen di tangan Xiao Lan. Setiap tetes hujan yang menghantam genting seolah membisikkan pengkhianatan, menggemakan kata-kata yang dulu diucapkan Lian, kekasihnya, lalu ditarik kembali dengan kejam.

Cahaya lentera di sudut ruangan nyaris padam, bayangannya menari-nari di dinding seperti kenangan yang patah. Xiao Lan menyesap tehnya perlahan. Aroma aneh menyengat hidungnya, aroma yang familier namun mengerikan. Ia tahu. Ia Tahu.

"Lian... kau pikir aku tidak akan tahu?" bisiknya pada ruang kosong.

Lian, dengan mata teduh yang dulu selalu menatapnya penuh cinta, kini berdiri di ambang pintu. Di wajahnya tergambar kerutan penyesalan, guratan waktu yang mengkhianati usia mudanya.

"Xiao Lan..." suaranya serak, tertelan oleh deru hujan. "Maafkan aku."

Maaf? Bisakah maaf mengembalikan hatinya yang hancur berkeping-keping? Bisakah maaf menghapus malam itu, ketika ia mendapati Lian berlutut di hadapan Kaisar, bersumpah setia dan melepaskan genggamannya darinya?

"Aku mencium racun dari cangkirku," gumam Xiao Lan, suaranya tenang namun menusuk. "Tapi rasanya... seperti kepulangan."

Di mata Lian, terpancar kebingungan. Ia maju selangkah, mengulurkan tangan. Xiao Lan mundur. Di antara mereka, terbentang jurang pengkhianatan, terlalu dalam untuk dijembatani.

"Kau tidak mengerti, Xiao Lan," ujar Lian putus asa. "Aku melakukan ini untukmu! Untuk melindungimu!"

Xiao Lan tertawa hambar. "Melindungiku? Dengan menikahi putri Kaisar? Dengan menukar cintaku dengan kekuasaan?!"

Ia menatap Lian, tatapan mata yang dulu penuh kasih, kini sedingin es. "Kau tahu, Lian, aku selalu mengagumi kemampuanmu berbohong. Tapi kau lupa satu hal..."

Ia mengangkat cangkir porselen itu, menunjukkan cairan teh yang tersisa. Bau racun semakin menyengat.

"Aku belajar banyak darimu."

Lian terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari terlalu lambat. Ia telah berjalan tepat ke dalam jebakan yang telah dirancang Xiao Lan selama sepuluh tahun.

"Kenapa, Xiao Lan? Kenapa kau melakukan ini?"

Hujan semakin deras, menenggelamkan suara Lian. Xiao Lan mendekat, berbisik di telinganya.

"Dulu kau bertanya padaku, apa arti cinta sejati bagiku. Sekarang, kau akan tahu."

Lian jatuh berlutut, mencengkeram dadanya. Ia tercekik. Xiao Lan memandangnya tanpa ampun.

"Kau pikir aku menderita selama ini, Lian? Kau salah. Aku hanya menunggu waktu yang tepat. Dan sekarang... waktunya telah tiba."

Lian menatap Xiao Lan, matanya memohon ampun. Xiao Lan tidak bergeming. Di balik tatapan dinginnya, tersimpan rahasia yang telah lama terkubur.

"Kau tahu, Lian..." bisik Xiao Lan, dengan nada yang membuat darah Lian membeku. "... Putri Kaisar yang kau nikahi itu... adalah adikku."

You Might Also Like: Jual Produk Skincare Lotase Original_19