Hujan menggigil kota tepi sungai. Setiap tetesnya terasa seperti jarum es yang menusuk kulit, membangkitkan kenangan yang seharusnya terkub...

Cerita Populer: Rahasia Yang Menjadi Legenda Cerita Populer: Rahasia Yang Menjadi Legenda

Cerita Populer: Rahasia Yang Menjadi Legenda

Cerita Populer: Rahasia Yang Menjadi Legenda

Hujan menggigil kota tepi sungai. Setiap tetesnya terasa seperti jarum es yang menusuk kulit, membangkitkan kenangan yang seharusnya terkubur. Di balik jendela kedai teh yang remang, Lan Xin menatap kosong pada riak air yang menari di permukaan sungai. Lima belas tahun sudah berlalu, namun bayangan pengkhianatan itu masih terpampang jelas di benaknya.

Dulu, ia dan Zhen Wei saling mencintai. Cinta mereka sehangat matahari musim semi, seindah bunga persik yang bermekaran di taman istana. Namun, badai tiba-tiba menerjang. Zhen Wei, karena sebuah kesalahan—atau mungkin karena ambisi—menikah dengan putri kerajaan dan meninggalkan Lan Xin dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Lentera di kedai itu nyaris padam, cahayanya berkedip-kedip seperti harapan yang hampir pupus. Setiap kali Lan Xin melihat pantulan wajahnya di cermin, ia melihat bukan hanya usia yang bertambah, tapi juga luka yang semakin menganga. Ia mencoba mengubur amarahnya, mencoba memaafkan, tapi kenangan itu selalu datang menghantui.

Zhen Wei, kini seorang jenderal besar, kerap melintas di depan kedai itu. Tatapannya selalu mencari Lan Xin, seolah ia ingin menyampaikan sesuatu yang tak terucap. Lan Xin selalu memalingkan wajahnya. Ia tak ingin menunjukkan kelemahan. Ia tak ingin Zhen Wei melihat betapa hancurnya ia.

"Lan Xin," suara Zhen Wei lirih suatu malam, ketika hujan reda dan hanya rembulan pucat yang menjadi saksi. "Aku..."

"Pergi," Lan Xin memotong kalimatnya dengan nada dingin. "Jangan pernah kembali."

Zhen Wei menunduk, bayangannya patah di bawah cahaya rembulan. Ia berbalik dan menghilang dalam kegelapan, meninggalkan Lan Xin dengan air mata yang tak bisa lagi ia bendung.

Namun, di balik kesedihannya, ada RENCANA yang tersimpan rapat. Lan Xin telah menghabiskan bertahun-tahun untuk mengumpulkan informasi, untuk memetakan kelemahan Zhen Wei, untuk mencari tahu kebenaran di balik pernikahannya dengan putri kerajaan.

Ia tahu bahwa Zhen Wei menikahi sang putri bukan karena cinta, melainkan karena paksaan. Ia tahu bahwa ada konspirasi yang jauh lebih besar yang melibatkan keluarga kerajaan dan para pejabat tinggi. Ia juga tahu bahwa Zhen Wei menyimpan RAHASIA yang bisa menghancurkan seluruh kerajaan.

Selama ini, Lan Xin berpura-pura menderita, berpura-pura lemah. Ia membiarkan Zhen Wei merasa bersalah, merasa bertanggung jawab. Ia membiarkan Zhen Wei merasa memiliki kendali. Tapi, sebenarnya, Lan Xin-lah yang memegang kendali penuh.

Di balik layar, Lan Xin telah membangun jaringan intelijen yang kuat, mengumpulkan bukti-bukti yang memberatkan Zhen Wei dan para konspirator. Ia telah menyiapkan jebakan yang sempurna, siap menjerat mereka semua.

Dan kini, saatnya telah tiba.

Lan Xin tersenyum tipis, senyum yang tidak mencerminkan kebahagiaan, melainkan kepuasan. Ia menatap lentera yang kini menyala lebih terang, cahayanya menembus kegelapan.

"Zhen Wei," bisiknya pelan. "Lima belas tahun yang lalu, kau mengambil segalanya dariku. Sekarang, giliranmu merasakan kehilangan yang sesungguhnya. Dendamku akan menjadi legenda."

Dan di tengah gemuruh badai yang kembali menerjang, Lan Xin tahu bahwa ketika Zhen Wei menikahi sang putri, ia sebenarnya tidak pernah tahu, bahwa putrinya yang sesungguhnya adalah... Putri dari Kerajaan Utara, musuh bebuyutan kerajaan yang ia bela mati-matian selama ini!

You Might Also Like: Mimpi Melihat Tokek Rumah Jangan

0 Comments: