Baiklah, inilah kisah puitis bergaya Dracin klasik yang Anda minta: **Ia Mengetik Pesan Panjang, Lalu Tekan Backspace** Di sebuah penginapan remang-remang, terselip di antara kabut gunung *Huangshan*, hiduplah seorang gadis bernama Lian. Matanya bagai danau di musim gugur, menyimpan kedalaman yang tak tertebak. Ia hidup dalam kesunyian, ditemani lukisan-lukisan gulir kuno yang menggambarkan seorang pria dengan senyum *abadi*. Setiap senja, Lian duduk di depan meja riasnya, menghadap cermin yang retak. Jemarinya yang lentik menari di atas *keyboard* usang, mengetik pesan panjang untuk seseorang yang tak pernah hadir. Baris demi baris terukir, mengalirkan kerinduan yang membakar jiwa. "Dulu, di bawah *pohon sakura* yang bersemi, kita berjanji akan bertemu lagi," tulisnya. "Dulu, suara tawamu bagai alunan seruling di tengah kesunyian." Setiap kata adalah tetesan air mata yang membeku menjadi kristal. Namun, sebelum pesan itu terkirim, jari-jarinya berhenti. Ia menatap layar dengan mata yang berkaca-kaca, lalu... *Backspace! Backspace! Backspace!* Semua lenyap. Kembali sunyi. Di dinding, lukisan pria tersenyum seolah mengejek. Lian merasa terjebak dalam lingkaran waktu yang tak berujung. Apakah pria itu nyata? Apakah kenangan itu milikinya? Ataukah ia hanya bermain peran dalam drama *misterius* yang ditulis oleh takdir? Suatu malam, saat badai salju mengamuk di luar, Lian menemukan sebuah kotak kayu terkunci di loteng. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya, terdapat sebuah jepit rambut giok berbentuk bunga teratai dan sebuah lukisan gulir yang belum selesai. Lukisan itu *IDENTIK* dengan lukisan-lukisan di kamarnya. Namun, ada satu perbedaan mencolok: pria dalam lukisan itu memegang jepit rambut giok yang sama persis dengan yang ada di tangannya. Di bagian bawah lukisan, tertulis sebuah nama dengan tinta yang memudar: Lian. *MOMEN PENGUNGKAPAN* tiba. Pria dalam lukisan itu adalah dirinya, dari kehidupan yang lalu. Ia adalah reinkarnasi dari seorang pelukis yang cintanya tragis. Ia telah menghabiskan berabad-abad mencari cintanya yang hilang, terjebak dalam *ilusi* lukisan dan mimpi yang berulang. Keindahan pengungkapan ini terasa seperti *pisau* yang menghunus jantungnya. Ia mencintai dirinya sendiri, dari masa lalu. Dan cintanya itu... *mustahil*. Di layar komputer, sebuah pesan panjang akhirnya terkirim, bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri. Isinya hanya satu kata: "***Lupakan...***"
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Interpretasi Mimpi

0 Comments: