Tentu, ini dia kisah tragis Dracin dengan gaya yang Anda minta: **Air Mata yang Menjadi Penutup Kisah** Hujan mengguyur Kota Terlarang, sama derasnya dengan air mata yang mengalir di pipi Lian, sang putri mahkota. Di sampingnya, berdiri tegak Zhao, panglima perang yang selama ini menjadi pelindungnya, sahabatnya, *saudaranya*. Mereka tumbuh bersama di balik tembok istana, berbagi mimpi tentang negeri yang damai, saling melindungi dari intrik para selir dan ambisi para pangeran. "Zhao," bisik Lian, suaranya bergetar, "Kau ingat janji kita? Akan selalu saling menjaga, *apapun* yang terjadi." Zhao menoleh, tatapannya setenang danau di musim gugur. "Tentu saja, Putri. Janji seorang prajurit adalah nyawanya." Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan badai. Selama bertahun-tahun, Zhao menyimpan rahasia yang membakar hatinya: bahwa ia adalah anak dari seorang jenderal yang dikhianati dan difitnah oleh ayah Lian, Kaisar. Keluarga Zhao dihancurkan, nama mereka tercemar. Satu-satunya alasan Zhao bertahan adalah untuk membalaskan dendam. "Kau tahu, Lian," Zhao melanjutkan, suaranya nyaris berbisik, "Kebencian adalah racun yang merusak jiwa. Tapi terkadang, itu adalah satu-satunya kekuatan yang tersisa." Dialog mereka adalah tari pedang yang berbahaya. Setiap kata adalah serangan, setiap senyum adalah topeng. Lian, yang polos dan tulus, tidak menyadari jurang yang menganga di antara mereka. Ia percaya pada persahabatan mereka, pada janji-janji masa kecil yang *sakral*. Misteri mulai terkuak ketika seorang kasim tua ditemukan tewas di perpustakaan kekaisaran. Di tangannya, tergenggam selembar perkamen berisi daftar nama para konspirator yang terlibat dalam pembunuhan jenderal Zhao. Nama Kaisar tertera di sana dengan tinta merah menyala. Lian hancur. Dunianya runtuh seketika. Ia menatap Zhao dengan mata penuh tanya dan ketakutan. "Mengapa, Zhao? Mengapa kau menyembunyikan ini dariku?" Zhao tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan pedangnya, Cahaya bulan memantul di bilahnya yang tajam. "Darah harus dibayar dengan darah, Putri." Balas dendam Zhao tak terhindarkan. Ia memanfaatkan kekacauan yang terjadi setelah pengungkapan skandal Kaisar untuk merebut tahta. Lian menyaksikan, dengan hati hancur berkeping-keping, saat istana yang dulu menjadi rumahnya menjadi lautan darah. Saat Zhao berlutut di hadapan Lian, pedang berlumuran darah di tangannya, ia akhirnya mengungkapkan kebenaran yang pahit. "Ayahmu memerintahkan pembunuhan ayahku. Ibuku meninggal karena kesedihan. Aku... *aku seharusnya membencimu*, tapi aku tidak bisa." Lian menatap Zhao dengan tatapan kosong. "Jadi, semua ini... adalah kebohongan?" Zhao menggeleng. "Tidak, Lian. Persahabatan kita... itu nyata. Tapi terkadang, cinta dan kebencian berjalan beriringan. Dan kebencian... *memenangkan* pertarungan ini." Saat Zhao mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap mengakhiri hidup Lian, ia terhenti. Air mata mengalir di pipinya. "Maafkan aku, Lian. *Maafkan aku*." Namun, sebelum pedang itu sempat menyentuh Lian, panah melesat dari kegelapan, menembus dada Zhao. Ia jatuh tersungkur di kaki Lian, darah membasahi lantai marmer. Lian berlutut di samping Zhao, memeluk tubuhnya yang bergetar. "Siapa... siapa yang melakukan ini?" Zhao menatap Lian dengan mata redup. Ia mencoba tersenyum, tapi yang keluar hanyalah erangan kesakitan. "Kau... akhirnya... bebas..." Zhao menghembuskan napas terakhirnya. Lian memeluk erat tubuh Zhao yang dingin. Ia tidak tahu siapa yang telah membunuh Zhao, atau mengapa. Yang ia tahu, ia telah kehilangan segalanya. Sahabatnya, saudaranya, cintanya, *musuhnya*. Ia mengangkat kepalanya, menatap langit yang kelabu. Hujan masih mengguyur, membasahi wajahnya dengan air mata yang tak kunjung berhenti. Di bawahnya, di antara genangan darah, terdapat secarik kertas yang lusuh dan bernoda. Di sana tertulis sebuah kata: "Maafkan... aku." Dan saat kegelapan mulai merenggutnya, Lian hanya bisa berpikir: *Apakah aku benar-benar pantas dicintai?*
You Might Also Like: 0895403292432 Peluang Bisnis Kosmetik

0 Comments: