Baiklah, ini dia kisah modern *dracin* dengan sentuhan puitis, aroma kopi, dan bayangan yang selalu mengikuti: **Bayangan yang Selalu Mengik...

Cerpen Keren: Bayangan Yang Selalu Mengikutiku Di Malam Pesta Cerpen Keren: Bayangan Yang Selalu Mengikutiku Di Malam Pesta

Cerpen Keren: Bayangan Yang Selalu Mengikutiku Di Malam Pesta

Cerpen Keren: Bayangan Yang Selalu Mengikutiku Di Malam Pesta

Baiklah, ini dia kisah modern *dracin* dengan sentuhan puitis, aroma kopi, dan bayangan yang selalu mengikuti: **Bayangan yang Selalu Mengikutiku di Malam Pesta** Hujan kota membasahi jendela apartemenku, serupa air mata yang enggan jatuh. Aroma kopi pahit mengepul, berusaha menghangatkan malam yang lebih dingin dari notifikasi terakhirmu. Layar ponselku menyala redup, menampilkan sisa chat yang tak terkirim: "Apa kabarmu? Aku masih..." *Aku masih apa?* Pertanyaan itu menggantung di udara, sama beratnya dengan bayanganmu yang selalu mengikutiku, terutama di malam-malam pesta. Malam itu, di tengah gemerlap lampu dan dentuman musik, aku melihatmu. Atau lebih tepatnya, *bayanganmu*. Seorang pria yang sangat mirip denganmu tertawa di dekat meja koktail. Jantungku berdebar tak karuan, menolak logika bahwa kau sudah tidak ada. Kau menghilang dua tahun lalu, tanpa jejak, tanpa penjelasan. Hanya meninggalkan *KEKOSONGAN* sebesar lubang di dadaku. Aku mendekat, terpaku. Pria itu menoleh. Bukan kamu. Tapi matanya… mata itu mengingatkanku pada _mimpi_ yang pernah kita rajut bersama di bawah rembulan. Mimpi tentang sebuah kafe kecil, tentang tawa anak-anak, tentang *CINTA* yang abadi. Mimpi yang kini hanya menjadi serpihan kaca yang melukai setiap kali aku memikirkannya. Setiap malam pesta, aku selalu mencarimu. Menelusuri wajah-wajah asing, berharap menemukan secuil jawaban, secuil penjelasan. Aku hidup dalam labirin *KENANGAN*, dihantui aroma parfummu, suara tawamu, dan janji-janji yang tak pernah ditepati. Lalu, aku menemukan sebuah *rahasia*. Sebuah foto yang terhapus di ponsel lamamu, yang berhasil kupulihkan dengan susah payah. Foto dirimu bersama seorang wanita, memegang bayi. Bayi itu… mirip dengan anak sahabatku. Semuanya terasa *JELAS* sekarang. Kau meninggalkanku bukan karena kau tidak mencintaiku, tapi karena kau sudah memiliki keluarga. Amarah dan kekecewaan bercampur menjadi sebuah koktail pahit di tenggorokanku. Aku ingin berteriak, ingin menuntut penjelasan, ingin membalas dendam. Tapi aku memilih jalan lain. Di pesta perayaan ulang tahun anak sahabatku, aku mendekatimu. Kau terkejut, terlihat gugup. Aku tersenyum, senyum yang kupelajari dari film-film balas dendam Korea. Aku mendekat dan membisikkan sesuatu di telingamu, sesuatu yang hanya kita berdua yang tahu maknanya, sesuatu yang membuat wajahmu pucat pasi. Aku mundur, menatapmu untuk terakhir kalinya. Lalu aku berbalik dan berjalan pergi, meninggalkanmu terdiam di tengah keramaian. Sebuah pesan terakhir telah terkirim, tanpa kata, tanpa drama. Sebelum aku benar-benar pergi, aku menoleh, menunjukkan senyum *TERAKHIR*. Senyum yang menyimpan semua kesedihan, semua kekecewaan, semua kebencian yang berhasil kulenyapkan. Malam ini, hujan kota terasa lebih tenang. Aroma kopi pahit tidak lagi menyakitkan. Aku memutuskan untuk memblokir semua kontakmu. ...Dan mungkin, *MUNGKIN*, aku bisa tidur nyenyak.
You Might Also Like: 7 Fakta Arti Mimpi Menangkap Kelinci

0 Comments: