Oke, ini dia kisah dracin intens yang kamu minta, lengkap dengan bumbu puitis dan ketegangan tinggi: **Kau Menatapku di Tengah Upacara, da...

Dracin Terbaru: Kau Menatapku Di Tengah Upacara, Dan Mata Kita Berbicara Lebih Jujur Dari Sumpah Dracin Terbaru: Kau Menatapku Di Tengah Upacara, Dan Mata Kita Berbicara Lebih Jujur Dari Sumpah

Dracin Terbaru: Kau Menatapku Di Tengah Upacara, Dan Mata Kita Berbicara Lebih Jujur Dari Sumpah

Dracin Terbaru: Kau Menatapku Di Tengah Upacara, Dan Mata Kita Berbicara Lebih Jujur Dari Sumpah

Oke, ini dia kisah dracin intens yang kamu minta, lengkap dengan bumbu puitis dan ketegangan tinggi: **Kau Menatapku di Tengah Upacara, dan Mata Kita Berbicara Lebih Jujur dari Sumpah** Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya di Istana Giok, terasa *berat*. Udara dingin menggigit kulit, memaksa setiap hembusan napas menjadi kepulan asap putih yang segera menghilang. Upacara pernikahan Putri Lian dengan Panglima perang termuda, Zhao Yun, seharusnya menjadi perayaan kemenangan. Namun, di mata Putri Lian, hanya ada kegelapan yang lebih pekat dari tinta. Dupa mengepul, menciptakan kabut wangi yang menyesakkan. Musik seremonial mendayu-dayu, seperti ratapan panjang. Di altar, Zhao Yun berdiri tegak, wajahnya tanpa ekspresi. *Dia*. Pandangan Lian terkunci pada Zhao Yun. Mata mereka bertemu. Di tengah gemerlap emas dan sutra merah, tatapan itu telanjang, jujur, dan **MEMATIKAN**. Bukan cinta yang terpancar dari sana, melainkan lautan kebencian yang dalam, dibentuk oleh sumpah yang dilanggar dan rahasia yang terkubur dalam-dalam. Lian mengingat malam itu, lima belas tahun lalu. Salju turun dengan derasnya, menutupi segalanya dengan selimut putih. Darah, yang mengalir dari tubuh ayahnya yang bersimbah luka, tampak lebih merah, lebih *mengerikan* di atas salju. Zhao Yun, saat itu masih anak laki-laki, bersumpah setia kepada keluarga kerajaan, bersumpah untuk melindungi mereka. Tapi malam itu, dia menghilang, meninggalkan Lian kecil menyaksikan pembantaian. Sekarang, dia berdiri di sana, mengenakan jubah panglima perang, siap menikahi putri dari keluarga yang dia khianati. "Putri Lian," suara pendeta membuyarkan lamunan Lian. "Ucapkan janji Anda." Air mata mengalir di pipi Lian, bercampur dengan sisa-sisa dupa yang menempel di kulitnya. Janji? Bagaimana mungkin dia bisa mengucapkan janji kepada pria yang menghancurkan hidupnya? Dia membuka mulutnya, bukan untuk mengucapkan janji pernikahan, melainkan untuk mengungkapkan kebenaran. Kebenaran yang selama ini disimpan rapat-rapat di dalam hatinya. "Zhao Yun," suara Lian bergetar, namun penuh tekad. "Aku, Putri Lian, di hadapan para dewa dan seluruh rakyat kerajaan, menuduhmu. Kau bersumpah setia, namun kau berkhianat. Kau membunuh ayahku, Raja Jian!" Aula besar itu membeku. Keheningan yang memekakkan telinga menggantung di udara. Zhao Yun tetap diam, wajahnya tidak berubah. "Ini fitnah!" teriak seorang menteri. "Panglima Zhao Yun adalah pahlawan kerajaan!" Lian mengangkat tangannya, menghentikan keributan. Dia mengeluarkan sebuah gulungan yang selama ini disembunyikannya. Surat pengakuan dari salah satu pengkhianat yang terlibat dalam pembantaian lima belas tahun lalu. Saat Zhao Yun melihat gulungan itu, matanya akhirnya menunjukkan emosi. Bukan penyesalan, melainkan...kepuasan. "Kau tahu?" tanya Zhao Yun, suaranya rendah dan berbahaya. "Aku selalu tahu," jawab Lian. "Aku hanya menunggu waktu yang tepat." Upacara pernikahan itu berubah menjadi medan perang. Pengawal kerajaan menyerbu, berusaha menangkap Zhao Yun. Namun, panglima perang itu terlalu kuat. Dia menebas dan membunuh, meninggalkan jejak mayat di belakangnya. Lian berdiri tegak, tidak gentar. Ini adalah saat yang dia nantikan selama bertahun-tahun. Balas dendam. "Zhao Yun," kata Lian, matanya berkilat dingin. "Kau pikir kau bisa lolos begitu saja? Kau salah." Lian mengeluarkan sebuah botol kecil berisi racun paling mematikan di kerajaan. Racun yang tidak meninggalkan jejak. "Aku tahu kau akan datang untukku," kata Zhao Yun, tersenyum tipis. "Tapi aku tidak menyangka kau akan menggunakan cara ini." "Kau tidak meninggalkanku pilihan," jawab Lian. Tanpa ragu, Lian meminum racun itu. Tubuhnya bergetar hebat, lalu ambruk ke lantai. Zhao Yun berlutut di samping Lian, mengusap rambutnya. "Kenapa?" bisiknya. Lian tersenyum lemah. "Karena kematianmu akan lebih menyakitkan jika kau tahu bahwa aku membunuh diriku sendiri, demi memastikan *pembalasanku*." Dan ketika kegelapan mulai merenggut kesadarannya, Lian melihat Zhao Yun merosot, dia sadar, tak hanya dia yang minum racun itu. Di atas abu janji yang dilanggar dan di tengah darah yang menodai salju, Putri Lian telah mendapatkan balas dendamnya. *** Malam itu, Istana Giok menjadi sunyi senyap. Dua jiwa yang terikat oleh cinta dan kebencian akhirnya beristirahat dalam kematian. Namun, di balik tirai sutra merah yang berlumuran darah, ada bisikan yang masih menggantung di udara: *Pengorbanan sejati baru saja dimulai.*
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Bimbingan

0 Comments: