## Bayangan yang Menuntun ke Jurang Hujan turun di atas makam Tuan Lin. Bukan hujan deras yang memekakkan telinga, melainkan rintik lembut, nyaris tak terasa di kulit. Seperti air mata yang enggan tumpah sepenuhnya. Seperti itulah keberadaan Lin Yi, roh yang terikat antara dunia yang fana dan alam baka. Bayangannya memanjang di nisan, menolak untuk pergi, seolah terpatri di sana selamanya. Dulu, Lin Yi adalah seorang pelukis. Karyanya dipuja, jiwanya diburu. Namun, ***KEBENARAN*** tentang lukisan terakhirnya terkubur bersamanya. Ia meninggal mendadak, sebuah kecelakaan yang terlalu rapi untuk disebut takdir. Sekarang, ia kembali. Bukan untuk membalas dendam, seperti yang mungkin dipikirkan banyak orang, melainkan untuk menemukan kedamaian. Dunia roh terasa sunyi. Penuh dengan bisikan angin dan ingatan yang berceceran. Namun, di balik keheningan itu, Lin Yi merasakan denyut kehidupan yang masih tertinggal. Denyut penyesalan. Denyut kebohongan. Denyut cinta. Ia mengikuti bayangannya sendiri, menelusuri jalan-jalan yang pernah dilaluinya semasa hidup. Setiap langkah terasa berat, seperti menginjak pecahan kaca. Ia melihat Mei, tunangannya. Wajahnya redup, matanya kehilangan binar. Lin Yi ingin memeluknya, mengatakan bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia mengerti. Tapi, ia hanya *bayangan*. Ia tak bisa menyentuh, tak bisa bicara. Hanya bisa melihat. Hanya bisa merasakan sakitnya kehilangan Mei. Kemudian, ia menemukan Li Wei, sahabatnya. Sosok yang dulu selalu ada di sisinya. Sekarang, Li Wei tampak gelisah, selalu menoleh ke belakang, seolah ada yang mengintai. Lin Yi tahu, Li Wei menyimpan rahasia. Rahasia yang berkaitan dengan kematiannya. *RAHASIA* yang membelenggu jiwanya. Lin Yi terus mengikuti jejaknya, dari galeri seni yang dulu memajang lukisannya, hingga ke tepi jurang tempat ia ditemukan tewas. Di sana, di tengah kabut tebal, ia melihat lukisan itu. Lukisan terakhirnya. Lukisan yang menjadi kunci. Lukisan itu bukan sekadar gambar. Lukisan itu adalah pengakuan. Pengakuan tentang cinta terlarang, tentang ambisi buta, tentang pengkhianatan yang menyayat hati. Li Wei-lah yang membunuhnya. Li Wei mencintai Mei. Li Wei menginginkan lukisannya. *Li Wei menginginkan hidupnya!* Amarah membara di dalam diri Lin Yi. Ia ingin berteriak, ingin memukul, ingin menghancurkan. Namun, semakin ia marah, semakin ia merasa hampa. Ia sadar, balas dendam tak akan mengembalikan apa pun. Balas dendam tak akan menghapus sakitnya Mei. Balas dendam tak akan memberinya kedamaian. Ia kemudian mendekati Li Wei. Bukan untuk menyakitinya, melainkan untuk membisikkan kata-kata maaf. Kata-kata yang tak sempat diucapkannya semasa hidup. Kata-kata yang membebaskannya dari belenggu kebencian. Li Wei terhuyung mundur. Wajahnya pucat pasi. Ia melihat Lin Yi. Bukan sebagai roh yang menuntut balas, melainkan sebagai teman yang memberikan pengampunan. Saat itu, rintik hujan berhenti. Kabut perlahan menghilang. Sinar matahari menembus celah-celah awan, menyinari wajah Lin Yi. Ia tak mencari balas dendam. Ia hanya mencari *PENGAMPUNAN*. Lin Yi tersenyum untuk terakhir kalinya...
You Might Also Like: 0895403292432 Produk Skincare
0 Comments: